Apa Itu SLB? Pengertian, Jenjang, Program Khusus, dan Layanannya
Apa itu SLB? Sekolah Luar Biasa atau SLB adalah satuan pendidikan yang memberikan layanan pendidikan khusus kepada peserta didik yang membutuhkan penyesuaian pembelajaran, lingkungan, komunikasi, media, kurikulum, maupun program pengembangan keterampilan tertentu.
SLB tidak hanya menjadi tempat anak mempelajari membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan di SLB juga mencakup pengembangan komunikasi, kemandirian, interaksi sosial, keterampilan hidup, vokasional, serta program kebutuhan khusus yang disesuaikan dengan kondisi setiap anak.
Karena itu, SLB tidak seharusnya dipandang sebagai tempat terakhir ketika seorang anak dianggap tidak mampu bersekolah di sekolah reguler. SLB merupakan salah satu pilihan layanan pendidikan yang secara khusus dipersiapkan untuk membantu anak berkembang sesuai kemampuan, kebutuhan, dan potensinya.
Pengertian SLB
SLB adalah singkatan dari Sekolah Luar Biasa. Dalam sistem pendidikan Indonesia, SLB termasuk satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan khusus.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran karena kondisi tertentu atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Undang-undang tersebut masih berstatus berlaku, meskipun beberapa ketentuannya telah mengalami pengujian dan perubahan dalam pelaksanaannya.
Penyelenggaraan pendidikan khusus selanjutnya diatur dalam PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Peraturan tersebut masih berlaku dengan sejumlah perubahan dan pencabutan sebagian ketentuan oleh peraturan yang lebih baru.
Dalam praktiknya, SLB memberikan layanan pendidikan kepada peserta didik yang dapat memiliki hambatan:
- penglihatan;
- pendengaran;
- intelektual;
- fisik atau motorik;
- komunikasi;
- emosi dan perilaku;
- interaksi sosial;
- spektrum autisme;
- kebutuhan ganda;
- kondisi lainnya yang membutuhkan layanan pendidikan khusus.
Namun, layanan pendidikan tidak boleh hanya ditentukan berdasarkan nama hambatan atau diagnosis. Guru perlu mengetahui kemampuan, kebutuhan, cara berkomunikasi, tingkat kemandirian, minat, potensi, serta dukungan yang dibutuhkan oleh setiap anak.
Dua anak dengan jenis hambatan yang sama dapat memiliki kemampuan dan kebutuhan belajar yang sangat berbeda.
Apakah SLB Hanya untuk Anak yang Tidak Bisa Belajar?
Tidak. Anggapan bahwa SLB hanya diperuntukkan bagi anak yang tidak mampu belajar merupakan pandangan yang keliru.
Semua anak dapat belajar, meskipun cara, kecepatan, bentuk dukungan, dan hasil belajarnya dapat berbeda.
Seorang anak mungkin mampu memahami konsep matematika melalui benda konkret, tetapi kesulitan memahami simbol abstrak. Anak lainnya mampu berkomunikasi melalui bahasa isyarat, gambar, gestur, perangkat komunikasi, atau tulisan meskipun belum menggunakan bahasa lisan.
Ada pula anak yang menunjukkan kemampuan tinggi dalam seni, olahraga, teknologi, keterampilan tangan, tata boga, pertanian, atau bidang vokasional lainnya.
Tugas SLB bukan menyeragamkan kemampuan seluruh peserta didik. Tugas SLB adalah menemukan cara agar setiap anak dapat:
- mengakses pembelajaran;
- berkomunikasi;
- mengembangkan potensi;
- merawat diri;
- berinteraksi dengan orang lain;
- membuat pilihan;
- menjaga keselamatan;
- mengembangkan keterampilan;
- mempersiapkan kehidupan setelah sekolah.
Jenjang Pendidikan di SLB
Layanan pendidikan di SLB dapat diselenggarakan pada beberapa jenjang.
1. TKLB
TKLB adalah layanan pendidikan anak usia dini bagi anak yang membutuhkan layanan pendidikan khusus.
Pembelajaran di TKLB umumnya menekankan stimulasi perkembangan, komunikasi, motorik, interaksi sosial, pembiasaan, bermain, pengenalan lingkungan, dan kemandirian awal.
Pada tahap ini, pembelajaran tidak seharusnya terlalu berorientasi pada kemampuan akademik. Anak perlu memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, aman, konkret, dan sesuai tahap perkembangannya.
2. SDLB
SDLB merupakan jenjang pendidikan dasar bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Pembelajaran dapat mencakup:
- literasi;
- numerasi;
- pendidikan karakter;
- komunikasi;
- pengembangan diri;
- keterampilan sosial;
- pengenalan lingkungan;
- seni dan olahraga;
- program kebutuhan khusus.
Materi, metode, media, dan target pembelajaran dapat disesuaikan berdasarkan hasil asesmen peserta didik.
3. SMPLB
Pada jenjang SMPLB, peserta didik melanjutkan pengembangan kemampuan akademik, sosial, kemandirian, dan keterampilan hidup.
Pembelajaran mulai diarahkan untuk membantu murid memahami dirinya, menjalankan tanggung jawab, berpartisipasi dalam lingkungan, dan mengenal berbagai aktivitas keterampilan.
4. SMALB
SMALB merupakan jenjang pendidikan menengah yang memberikan perhatian lebih besar pada pengembangan kemandirian, kecakapan hidup, kesiapan bekerja, kewirausahaan, dan partisipasi di masyarakat.
Pembelajaran akademik tetap diberikan sesuai kebutuhan murid. Namun, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk memperoleh nilai atau ijazah. Murid perlu dipersiapkan agar memiliki keterampilan yang bermakna setelah menyelesaikan pendidikan.
Peraturan mengenai akomodasi yang layak secara resmi mencantumkan satuan TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB, dan SMKLB sebagai bagian dari satuan pendidikan yang melayani peserta didik penyandang disabilitas.
Apakah SLB Dibedakan Berdasarkan Jenis Hambatan?
Dalam masyarakat masih dikenal istilah SLB-A, SLB-B, SLB-C, SLB-D, dan beberapa sebutan lainnya.
Secara umum, sebutan tersebut pernah digunakan untuk menunjukkan kekhususan layanan, seperti:
- SLB-A untuk hambatan penglihatan;
- SLB-B untuk hambatan pendengaran;
- SLB-C untuk hambatan intelektual;
- SLB-D untuk hambatan fisik;
- SLB-E untuk hambatan emosi dan perilaku;
- SLB-G untuk kebutuhan ganda.
Namun, orang tua tidak sebaiknya hanya menggunakan huruf atau kategori tersebut untuk menentukan sekolah anak.
Saat ini banyak SLB memberikan layanan kepada peserta didik dengan kebutuhan yang beragam dalam satu satuan pendidikan. Hal yang lebih penting adalah memastikan sekolah memiliki program, tenaga pendidik, media, aksesibilitas, dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Siapa Saja yang Belajar di SLB?
Peserta didik yang belajar di SLB dapat memiliki profil yang sangat beragam.
Sebagian anak membutuhkan dukungan dalam mengakses materi akademik. Sebagian lainnya memerlukan dukungan komunikasi, perilaku adaptif, mobilitas, motorik, sensorik, atau keterampilan merawat diri.
Peserta didik di SLB dapat meliputi anak dengan:
- hambatan penglihatan;
- hambatan pendengaran;
- hambatan intelektual;
- hambatan fisik;
- spektrum autisme;
- hambatan komunikasi;
- hambatan emosi dan perilaku;
- kebutuhan khusus majemuk;
- kebutuhan pendidikan khusus lainnya.
Tidak semua peserta didik memiliki kemampuan akademik yang sama. Karena itu, usia kronologis, usia perkembangan, kemampuan fungsional, dan kebutuhan dukungan perlu dipertimbangkan dalam penyusunan pembelajaran.
Apa yang Dipelajari Anak di SLB?
Anak di SLB tetap memperoleh pembelajaran akademik. Namun, pembelajaran disesuaikan agar relevan dengan kemampuan dan kebutuhan anak.
Pembelajaran akademik
Pembelajaran akademik dapat mencakup:
- Pendidikan Agama;
- Pendidikan Pancasila;
- Bahasa Indonesia;
- Matematika;
- Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial;
- seni;
- pendidikan jasmani;
- mata pelajaran lain sesuai kurikulum.
Portal Capaian Pembelajaran resmi Kemendikdasmen menyediakan Capaian Pembelajaran SLB dalam fase A sampai F, termasuk untuk Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan Pancasila, dan mata pelajaran lainnya.
Pembelajaran fungsional
Pembelajaran fungsional menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Contohnya, murid tidak hanya belajar mengenal angka, tetapi juga menggunakan angka untuk:
- menghitung benda;
- membaca harga;
- menggunakan uang;
- memahami waktu;
- mengenali nomor rumah;
- mengukur bahan;
- mengikuti resep sederhana.
Pembelajaran membaca juga dapat dikaitkan dengan membaca nama, tanda keselamatan, label barang, jadwal, petunjuk, atau pesan sederhana.
Pembelajaran keterampilan
Program keterampilan dapat disesuaikan dengan potensi peserta didik dan sumber daya sekolah.
Contohnya meliputi:
- tata boga;
- tata busana;
- kriya;
- pertanian;
- peternakan;
- perbengkelan;
- teknologi informasi;
- seni;
- kecantikan;
- kerajinan;
- kewirausahaan.
Pendidikan vokasional di SLB tidak boleh sekadar membuat anak sibuk menghasilkan suatu produk. Kegiatan perlu membantu murid memahami proses kerja, keselamatan, tanggung jawab, ketekunan, komunikasi, pemasaran, dan pengelolaan hasil.
Apa Itu Program Kebutuhan Khusus di SLB?
Selain mata pelajaran akademik dan keterampilan, SLB memiliki Program Kebutuhan Khusus atau program khusus.
Program ini berfungsi mengembangkan kemampuan tertentu yang dibutuhkan peserta didik untuk mengurangi dampak hambatan dan meningkatkan partisipasi.
Program kebutuhan khusus merupakan bagian dari pembelajaran kompensatoris.
Bentuk program dapat berbeda berdasarkan kebutuhan peserta didik.
Peserta didik dengan hambatan penglihatan
Program dapat mencakup:
- orientasi dan mobilitas;
- penggunaan tongkat;
- pengenalan lingkungan;
- huruf Braille;
- penggunaan pembaca layar;
- keterampilan sosial;
- komunikasi.
Peserta didik dengan hambatan pendengaran
Program dapat mencakup:
- pengembangan komunikasi;
- persepsi bunyi dan irama;
- pengembangan kosakata;
- bahasa isyarat;
- membaca gerak bibir;
- komunikasi lisan atau tertulis;
- penggunaan alat bantu dengar sesuai kebutuhan.
Peserta didik dengan hambatan intelektual
Program dapat mencakup:
- makan dan minum;
- mandi;
- berpakaian;
- menggunakan toilet;
- merawat kebersihan;
- berkomunikasi;
- bersosialisasi;
- melindungi diri;
- menggunakan uang;
- menggunakan waktu luang.
Capaian Pembelajaran resmi Program Khusus Hambatan Intelektual mencakup merawat diri, mengurus diri, menolong diri, komunikasi, sosialisasi, keterampilan sederhana, dan penggunaan waktu luang.
Peserta didik dengan hambatan fisik
Program dapat mencakup:
- pengembangan gerak;
- koordinasi tubuh;
- keseimbangan;
- berpindah posisi;
- penggunaan alat bantu;
- keterampilan merawat diri;
- komunikasi dan sosialisasi.
Peserta didik dalam spektrum autisme
Program dapat mencakup:
- komunikasi fungsional;
- perilaku adaptif;
- kemandirian;
- pengenalan emosi;
- interaksi sosial;
- pengembangan sensorik dan motorik;
- penggunaan jadwal visual;
- pengelolaan perubahan kegiatan.
Program tersebut tidak diberikan hanya berdasarkan label. Guru perlu menentukan program berdasarkan hasil asesmen individual.
Bagaimana Pembelajaran di SLB Dilaksanakan?
Pembelajaran di SLB perlu berpusat pada kebutuhan murid.
Beberapa pendekatan yang dapat digunakan antara lain:
Menggunakan benda konkret
Murid yang kesulitan memahami konsep abstrak dapat belajar melalui benda nyata, praktik langsung, gambar, atau simulasi.
Memecah tugas menjadi langkah kecil
Keterampilan kompleks dapat dipecah melalui analisis tugas.
Sebagai contoh, kegiatan memakai baju dapat dibagi menjadi:
- mengambil baju;
- menentukan bagian depan;
- memasukkan kepala;
- memasukkan tangan kanan;
- memasukkan tangan kiri;
- merapikan baju.
Memberikan bantuan secara bertahap
Bantuan dapat berupa arahan verbal, contoh, gestur, gambar, atau bantuan fisik.
Ketika kemampuan anak meningkat, bantuan perlu dikurangi secara bertahap agar anak tidak selalu bergantung kepada guru.
Menggunakan pengulangan yang bermakna
Pengulangan diperlukan oleh sebagian anak, tetapi kegiatan tidak boleh hanya berupa latihan yang sama tanpa konteks.
Keterampilan sebaiknya dipraktikkan di tempat dan situasi yang berbeda agar dapat digunakan dalam kehidupan nyata.
Menggunakan media yang aksesibel
Media dapat berbentuk:
- benda konkret;
- huruf Braille;
- gambar timbul;
- teks berukuran besar;
- bahasa isyarat;
- video dengan teks;
- kartu komunikasi;
- jadwal visual;
- audio;
- pembaca layar;
- alat tulis adaptif.
Pemanfaatan perangkat digital yang ramah disabilitas juga dapat berfungsi sebagai teknologi asistif untuk mendukung pembelajaran di SLB. Kemendikdasmen, misalnya, telah menyoroti penggunaan fitur aksesibilitas pada papan interaktif digital bagi murid tunanetra.
Pentingnya Asesmen di SLB
Asesmen merupakan dasar dalam menentukan layanan pendidikan.
Asesmen tidak hanya digunakan untuk mengetahui kekurangan anak. Guru juga perlu mengenali:
- kemampuan yang telah dimiliki;
- cara anak berkomunikasi;
- minat;
- respons sensorik;
- kemampuan motorik;
- kemampuan akademik;
- keterampilan sosial;
- kemandirian;
- perilaku adaptif;
- bentuk bantuan yang efektif;
- potensi yang dapat dikembangkan.
Hasil asesmen dapat digunakan untuk menyusun profil belajar, menentukan tujuan, memilih media, menetapkan program khusus, dan menyusun Program Pembelajaran Individual.
Tanpa asesmen yang memadai, sekolah berisiko memberikan program yang terlalu mudah, terlalu sulit, tidak relevan, atau tidak dibutuhkan anak.
Program Pembelajaran Individual di SLB
Sebagian peserta didik memerlukan Program Pembelajaran Individual, yang sering disingkat PPI.
PPI memuat perencanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan seorang murid.
Program tersebut dapat mencakup:
- profil kemampuan awal;
- kebutuhan prioritas;
- tujuan jangka panjang;
- tujuan jangka pendek;
- strategi pembelajaran;
- media;
- bentuk bantuan;
- jadwal layanan;
- cara evaluasi;
- pihak yang terlibat.
PPI bukan berarti anak harus selalu belajar sendirian. Anak tetap dapat belajar bersama teman-temannya, tetapi memiliki target, media, bantuan, atau cara penilaian yang disesuaikan.
Peran Guru di SLB
Guru SLB tidak hanya menyampaikan materi pelajaran.
Guru juga berperan dalam:
- melakukan identifikasi dan asesmen;
- menyusun pembelajaran adaptif;
- mengembangkan media;
- melaksanakan program kebutuhan khusus;
- mendampingi perkembangan komunikasi;
- mengembangkan kemandirian;
- mencatat perkembangan;
- berkolaborasi dengan orang tua;
- bekerja sama dengan tenaga profesional;
- mempersiapkan transisi anak.
Karena kebutuhan peserta didik sangat beragam, guru SLB perlu terus belajar dan memperbarui kompetensinya.
Guru juga harus memahami batas kewenangan profesional. Kegiatan pendidikan yang dilakukan guru tidak boleh secara sembarangan disebut terapi atau menggantikan layanan kesehatan yang memerlukan tenaga profesional.
Peran Orang Tua dalam Pendidikan di SLB
Keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh sekolah.
Orang tua memiliki informasi penting mengenai kebiasaan, komunikasi, kebutuhan, kesehatan, perilaku, minat, dan perkembangan anak di rumah.
Kolaborasi dapat dilakukan melalui:
- komunikasi perkembangan secara berkala;
- penyepakatan tujuan prioritas;
- latihan keterampilan di rumah;
- penggunaan cara komunikasi yang konsisten;
- diskusi ketika terjadi perubahan perilaku;
- perencanaan transisi;
- evaluasi program bersama.
Sekolah tidak seharusnya menyalahkan keluarga ketika perkembangan anak belum sesuai harapan. Sebaliknya, orang tua juga perlu memahami bahwa perubahan keterampilan membutuhkan waktu, konsistensi, dan latihan dalam berbagai situasi.
Perbedaan SLB dan Sekolah Inklusif
SLB dan sekolah inklusif sama-sama dapat memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus, tetapi bentuk penyelenggaraannya berbeda.
SLB
SLB merupakan satuan pendidikan yang secara khusus dirancang untuk peserta didik yang membutuhkan pendidikan khusus.
SLB umumnya memiliki:
- guru pendidikan khusus;
- program kebutuhan khusus;
- media adaptif;
- pembelajaran individual;
- keterampilan fungsional;
- pengalaman menangani kebutuhan tertentu.
Sekolah inklusif
Sekolah inklusif merupakan satuan pendidikan umum yang menerima dan melayani peserta didik dengan beragam kondisi dalam lingkungan belajar bersama.
Sekolah perlu menyediakan penyesuaian, dukungan, aksesibilitas, dan akomodasi yang layak.
Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 mengatur penyediaan akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas, termasuk dukungan pendanaan, sarana dan prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum, serta Unit Layanan Disabilitas.
Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca dalam artikel Apa Itu Pendidikan Inklusif?.
Apakah Anak Lebih Baik Masuk SLB atau Sekolah Inklusif?
Tidak ada satu jawaban yang berlaku bagi semua anak.
Pemilihan layanan pendidikan perlu mempertimbangkan:
- kebutuhan anak;
- hasil asesmen;
- cara komunikasi;
- kebutuhan program khusus;
- aksesibilitas sekolah;
- kompetensi guru;
- ketersediaan pendampingan;
- lingkungan sosial;
- jarak sekolah;
- pendapat anak;
- harapan keluarga;
- kepentingan terbaik anak.
Orang tua sebaiknya tidak memilih sekolah hanya karena label, gengsi, rasa takut, atau tekanan dari lingkungan.
Sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang menerima pendaftaran anak. Sekolah harus mampu memberikan layanan yang relevan, aman, bermakna, dan berkelanjutan.
SLB sebagai Pusat Sumber Pendidikan Inklusif
SLB tidak harus bekerja sendiri atau diposisikan berlawanan dengan sekolah inklusif.
SLB dapat berperan sebagai pusat sumber yang mendukung sekolah lain dalam memberikan layanan kepada anak berkebutuhan khusus.
Bentuk dukungannya dapat berupa:
- konsultasi;
- bantuan identifikasi dan asesmen;
- pengembangan media adaptif;
- pendampingan penyusunan PPI;
- pelatihan guru;
- peminjaman alat bantu;
- dukungan program kebutuhan khusus;
- perencanaan transisi;
- berbagi praktik baik.
Kolaborasi tersebut memungkinkan keahlian guru pendidikan khusus menjangkau lebih banyak anak, termasuk anak yang belajar di sekolah reguler.
Akomodasi yang Layak di SLB
Meskipun SLB merupakan satuan pendidikan khusus, sekolah tetap perlu memperhatikan aksesibilitas dan akomodasi yang layak.
Akomodasi dapat berupa:
- jalur yang dapat digunakan kursi roda;
- toilet aksesibel;
- pencahayaan yang sesuai;
- penataan ruang yang aman;
- materi dalam format Braille;
- teks berukuran besar;
- penerjemahan bahasa isyarat;
- waktu pengerjaan tambahan;
- teknologi bantu;
- penyesuaian cara menjawab;
- ruang untuk mengelola kebutuhan sensorik.
Akomodasi yang layak bukan bentuk perlakuan istimewa yang tidak adil. Akomodasi memberikan akses agar peserta didik dapat mengikuti pendidikan secara setara.
Kesalahan Pandangan tentang SLB
Beberapa pandangan yang perlu diluruskan antara lain:
“Anak di SLB tidak bisa belajar”
Semua anak dapat belajar. Perbedaannya terletak pada tujuan, metode, media, dukungan, dan waktu yang dibutuhkan.
“SLB hanya mengajarkan keterampilan”
SLB juga memberikan pembelajaran akademik, karakter, komunikasi, sosial, olahraga, seni, serta program kebutuhan khusus.
“Semua anak di SLB memiliki kemampuan yang sama”
Peserta didik di SLB sangat beragam. Program harus disusun berdasarkan asesmen individual.
“Masuk SLB berarti masa depan anak selesai”
Pendidikan di SLB justru bertujuan membantu anak mengembangkan kemampuan, kemandirian, keterampilan kerja, dan partisipasi sosial.
“SLB dan sekolah inklusif saling bertentangan”
Keduanya merupakan bagian dari sistem layanan pendidikan. SLB dan sekolah inklusif dapat berkolaborasi sesuai kebutuhan anak.
Cara Memilih SLB untuk Anak
Sebelum memilih sekolah, orang tua dapat memperhatikan beberapa hal berikut:
- Apakah sekolah melakukan asesmen awal?
- Apakah guru memahami kebutuhan komunikasi anak?
- Apakah program sekolah sesuai dengan kebutuhan anak?
- Apakah tersedia program kebutuhan khusus?
- Apakah lingkungan sekolah aman dan aksesibel?
- Bagaimana sekolah mencegah perundungan?
- Apakah orang tua dilibatkan dalam penyusunan program?
- Bagaimana sekolah mencatat perkembangan anak?
- Apakah tersedia program keterampilan dan transisi?
- Apakah anak terlihat aman dan nyaman di lingkungan sekolah?
Sekolah yang sesuai bukan hanya sekolah dengan fasilitas paling lengkap. Kualitas hubungan antara guru, murid, keluarga, dan lingkungan belajar juga sangat menentukan.
