Anak berkebutuhan khusus atau ABK adalah anak yang dalam proses tumbuh kembang, belajar, berkomunikasi, bergerak, berinteraksi, atau menjalankan aktivitas sehari-hari membutuhkan dukungan yang berbeda atau lebih spesifik dibandingkan sebagian anak seusianya.
Kebutuhan tersebut dapat berkaitan dengan kondisi penglihatan, pendengaran, intelektual, fisik, komunikasi, perilaku, interaksi sosial, kemampuan belajar, maupun kondisi perkembangan lainnya.
Namun, memahami anak berkebutuhan khusus tidak cukup dengan mengetahui nama hambatannya.
Dua anak dengan diagnosis atau jenis hambatan yang sama belum tentu mempunyai kemampuan, kebutuhan belajar, cara berkomunikasi, minat, dan bentuk dukungan yang sama.
Karena itu, pertanyaan terpenting dalam pendidikan bukan sekadar “Apa jenis kebutuhan khusus anak ini?”, tetapi juga:
“Apa yang sudah dapat dilakukan anak, hambatan apa yang dialaminya, dan dukungan apa yang dibutuhkan agar ia dapat belajar serta berpartisipasi?”
Apa yang Dimaksud Anak Berkebutuhan Khusus?
Istilah anak berkebutuhan khusus digunakan secara luas untuk menggambarkan anak yang memerlukan layanan, strategi, lingkungan, media, atau penyesuaian tertentu agar dapat berkembang dan mengikuti pendidikan secara optimal.
Dalam konteks sekolah juga sering digunakan istilah Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
Istilah PDBK lebih sesuai ketika pembicaraan secara khusus berada dalam konteks pendidikan, karena individu tersebut ditempatkan sebagai peserta didik terlebih dahulu, bukan didefinisikan semata-mata berdasarkan kondisinya.
Kebutuhan khusus dapat terlihat pada beberapa aspek, seperti:
- kemampuan menerima informasi;
- kemampuan berkomunikasi;
- kemampuan membaca dan menulis;
- kemampuan memahami konsep;
- mobilitas;
- koordinasi gerak;
- perilaku adaptif;
- interaksi sosial;
- regulasi emosi;
- kebutuhan sensorik;
- kemandirian;
- penggunaan alat bantu.
Kebutuhan tersebut dapat bersifat ringan hingga membutuhkan dukungan yang intensif.
Yang perlu dipahami adalah bahwa kebutuhan khusus bukan berarti anak tidak mampu belajar.
Anak dapat belajar apabila tujuan, cara mengajar, media, lingkungan, waktu, bentuk bantuan, dan evaluasi disesuaikan dengan kebutuhannya.
ABK, PDBK, dan Penyandang Disabilitas: Apakah Sama?
Ketiga istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, tetapi konteks penggunaannya dapat berbeda.
Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK
ABK merupakan istilah yang luas dan lazim digunakan dalam masyarakat serta dunia pendidikan untuk menjelaskan anak yang membutuhkan dukungan khusus dalam perkembangan atau pembelajaran.
Peserta Didik Berkebutuhan Khusus atau PDBK
PDBK digunakan ketika anak berada dalam konteks layanan pendidikan.
Istilah ini menekankan bahwa anak merupakan peserta didik yang memiliki hak untuk belajar, berpartisipasi, memperoleh dukungan, dan mengembangkan potensinya.
Data referensi Kemendikdasmen sampai saat ini juga masih menggunakan kategori Peserta Didik Berkebutuhan Khusus dalam sistem data pendidikan.
Peserta Didik Penyandang Disabilitas
Istilah ini digunakan secara khusus dalam regulasi terkait pemenuhan hak penyandang disabilitas.
UU Nomor 8 Tahun 2016 menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek yang memiliki kesamaan hak dan kesempatan, termasuk hak atas aksesibilitas dan akomodasi yang layak.
Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 secara khusus menggunakan istilah Peserta Didik Penyandang Disabilitas dalam pengaturan Akomodasi yang Layak pada satuan pendidikan.
Artinya, dalam penulisan pendidikan, istilah sebaiknya digunakan sesuai konteks dan dengan tetap menghormati individu yang dibicarakan.
Anak Berkebutuhan Khusus Bukan Sekadar Label
Mengetahui diagnosis atau jenis hambatan dapat membantu memahami kondisi anak. Namun, label tidak boleh menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan program pendidikan.
Misalnya, dua murid sama-sama berada dalam spektrum autisme.
Murid pertama mampu berbicara dalam kalimat panjang dan memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi mengalami kesulitan memahami situasi sosial.
Murid kedua belum menggunakan bahasa lisan secara fungsional dan membutuhkan gambar atau perangkat komunikasi untuk menyampaikan kebutuhan.
Keduanya sama-sama dapat disebut berada dalam spektrum autisme, tetapi kebutuhan pendidikannya berbeda.
Hal yang sama berlaku bagi hambatan intelektual, penglihatan, pendengaran, fisik, maupun kondisi lainnya.
Karena itu, guru harus melihat anak secara utuh, bukan sekadar kategorinya.
Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
Berikut beberapa kelompok kebutuhan yang sering ditemukan dalam layanan pendidikan khusus.
1. Anak dengan Hambatan Penglihatan
Anak dengan hambatan penglihatan mengalami keterbatasan dalam menggunakan fungsi penglihatannya untuk memperoleh informasi dan menjalankan aktivitas tertentu.
Kondisinya tidak selalu berarti tidak dapat melihat sama sekali.
Ada anak yang memiliki kebutaan total dan ada pula yang masih memiliki sisa penglihatan atau low vision.
Kebutuhan pendidikannya dapat meliputi:
- huruf Braille;
- teks berukuran besar;
- audio;
- benda konkret;
- gambar atau peta timbul;
- pembaca layar;
- latihan orientasi dan mobilitas;
- penataan lingkungan yang aman;
- deskripsi terhadap informasi visual.
Anak juga dapat membutuhkan pembelajaran kompensatoris dalam orientasi, mobilitas, komunikasi, dan keterampilan sosial.
2. Anak dengan Hambatan Pendengaran
Anak dengan hambatan pendengaran mengalami keterbatasan dalam menerima informasi melalui saluran pendengaran.
Tingkat dan karakteristiknya sangat beragam.
Sebagian anak menggunakan bahasa lisan, sebagian menggunakan bahasa isyarat, dan sebagian menggunakan kombinasi berbagai bentuk komunikasi.
Kebutuhan belajar dapat berupa:
- bahasa isyarat;
- komunikasi visual;
- tulisan;
- posisi duduk yang memungkinkan melihat guru;
- video dengan teks;
- pengembangan kosakata;
- pengembangan persepsi bunyi;
- penggunaan alat bantu dengar apabila sesuai;
- lingkungan dengan gangguan suara minimal.
Guru tidak boleh berasumsi bahwa semua anak dengan hambatan pendengaran menggunakan metode komunikasi yang sama.
3. Anak dengan Hambatan Intelektual
Anak dengan hambatan intelektual dapat mengalami kesulitan dalam memahami konsep, memecahkan masalah, mengingat informasi, melakukan generalisasi, dan menjalankan beberapa keterampilan adaptif.
Pembelajaran biasanya memerlukan:
- materi konkret;
- instruksi sederhana;
- langkah pembelajaran yang kecil;
- pengulangan;
- contoh langsung;
- waktu yang lebih panjang;
- pembelajaran fungsional;
- latihan dalam situasi nyata.
Misalnya, pembelajaran matematika tidak harus berhenti pada mengerjakan soal di buku.
Murid dapat belajar menggunakan uang ketika membeli makanan, memahami jam ketika menyusun kegiatan harian, atau menghitung bahan ketika membuat minuman.
Program kebutuhan khusus bagi peserta didik dengan hambatan intelektual juga dapat mencakup merawat diri, mengurus diri, komunikasi, sosialisasi, keterampilan sederhana, dan penggunaan waktu luang.
4. Anak dengan Hambatan Fisik atau Motorik
Anak dengan hambatan fisik dapat mengalami keterbatasan fungsi gerak, koordinasi, kekuatan, keseimbangan, atau kemampuan menjalankan aktivitas motorik tertentu.
Kebutuhan belajarnya dapat mencakup:
- meja dan kursi yang sesuai;
- akses kursi roda;
- alat tulis adaptif;
- waktu menulis yang lebih panjang;
- perangkat digital;
- penyesuaian aktivitas olahraga;
- bantuan untuk berpindah posisi;
- toilet aksesibel;
- pengembangan gerak sesuai kebutuhan.
Hambatan fisik tidak otomatis menunjukkan hambatan intelektual.
Seorang anak dapat mengalami kesulitan berjalan atau menulis tetapi mempunyai kemampuan berpikir yang sama atau bahkan tinggi.
Karena itu, guru tidak boleh menurunkan target akademik hanya berdasarkan kondisi fisik.
5. Anak dalam Spektrum Autisme
Autisme merupakan kondisi perkembangan yang dapat memengaruhi komunikasi, interaksi sosial, pola perilaku, fleksibilitas, dan pemrosesan sensorik.
Spektrum berarti karakteristik setiap individu sangat beragam.
Sebagian anak dapat berbicara dengan lancar. Sebagian lainnya menggunakan sedikit bahasa lisan atau membutuhkan komunikasi alternatif.
Kebutuhan belajar dapat berupa:
- jadwal visual;
- instruksi yang jelas;
- komunikasi alternatif;
- struktur kegiatan yang dapat diprediksi;
- dukungan dalam menghadapi perubahan;
- pengembangan komunikasi fungsional;
- pengembangan keterampilan sosial;
- dukungan regulasi sensorik;
- kesempatan untuk beristirahat;
- pembelajaran kemandirian.
Guru perlu menghindari tujuan yang hanya berfokus membuat perilaku anak terlihat sama dengan teman lainnya.
Prioritas seharusnya diberikan pada komunikasi, keselamatan, kenyamanan, pembelajaran, kemandirian, dan partisipasi.
6. Anak dengan Kesulitan Belajar Spesifik
Sebagian anak mempunyai kemampuan intelektual yang memadai tetapi mengalami kesulitan khusus dalam proses akademik tertentu.
Kesulitan dapat terlihat pada:
- membaca;
- menulis;
- mengeja;
- memahami simbol;
- berhitung;
- mengorganisasikan informasi.
Salah satu contoh yang banyak dikenal adalah disleksia.
Anak dengan kesulitan belajar tidak tepat disebut malas hanya karena membaca lebih lambat atau sering membuat kesalahan dalam tulisan.
Ia dapat membutuhkan:
- pengajaran eksplisit;
- latihan bertahap;
- media multisensori;
- waktu tambahan;
- teks yang mudah dibaca;
- bantuan teknologi;
- cara penilaian yang fleksibel.
7. Anak dengan Hambatan Perhatian dan Pengendalian Diri
Sebagian anak mengalami kesulitan mempertahankan perhatian, mengendalikan impuls, mengatur aktivitas, atau menyelesaikan tugas.
Dalam beberapa kondisi, karakteristik ini dapat berkaitan dengan ADHD.
Dukungan di kelas dapat berupa:
- instruksi singkat;
- tugas yang dipecah menjadi beberapa bagian;
- jadwal visual;
- pengurangan distraksi;
- jeda gerak;
- penguatan positif;
- batas dan aturan yang jelas;
- waktu kerja yang disesuaikan.
Guru perlu berhati-hati agar perilaku aktif tidak langsung diberi label ADHD tanpa proses pemeriksaan profesional.
8. Anak dengan Hambatan Komunikasi
Sebagian anak mengalami hambatan dalam memahami bahasa, menyampaikan pesan, menghasilkan ujaran, atau menggunakan komunikasi secara fungsional.
Kebutuhan komunikasi dapat didukung melalui:
- gambar;
- simbol;
- gestur;
- bahasa isyarat;
- papan komunikasi;
- perangkat komunikasi;
- komunikasi augmentatif dan alternatif.
Kemampuan berbicara bukan satu-satunya ukuran kemampuan berkomunikasi.
Tujuan terpenting adalah memastikan anak memiliki cara yang dapat dipahami untuk menyampaikan kebutuhan, pilihan, penolakan, perasaan, dan gagasannya.
9. Anak dengan Hambatan Emosi atau Perilaku
Sebagian peserta didik mengalami kesulitan dalam regulasi emosi, perilaku, hubungan sosial, atau penyesuaian terhadap lingkungan.
Guru perlu memahami fungsi perilaku sebelum memberikan konsekuensi.
Perilaku tertentu dapat muncul karena:
- tugas terlalu sulit;
- kesulitan berkomunikasi;
- kebutuhan sensorik;
- rasa takut;
- kecemasan;
- perubahan rutinitas;
- pengalaman negatif;
- kebutuhan mendapatkan perhatian;
- kebutuhan menghindari situasi tertentu.
Pendekatan pendidikan sebaiknya berfokus pada pencegahan, komunikasi, regulasi diri, dukungan lingkungan, dan pengajaran perilaku alternatif.
10. Anak dengan Kebutuhan Ganda atau Majemuk
Seorang anak dapat mempunyai lebih dari satu kondisi yang secara bersama-sama memengaruhi proses belajarnya.
Sebagai contoh, anak dapat mempunyai hambatan intelektual sekaligus hambatan fisik atau hambatan penglihatan sekaligus pendengaran.
Program untuk anak dengan kebutuhan ganda harus dirancang secara individual karena kebutuhan dukungannya dapat sangat kompleks.
Bagaimana Mengetahui Anak Membutuhkan Dukungan Khusus?
Guru dan orang tua dapat menemukan adanya perbedaan perkembangan atau kesulitan belajar melalui pengamatan sehari-hari.
Namun, satu atau dua karakteristik tidak dapat digunakan untuk menetapkan diagnosis.
Guru sebaiknya mengamati pola secara sistematis.
Misalnya:
- apakah anak konsisten kesulitan memahami instruksi;
- apakah terdapat kesenjangan kemampuan yang signifikan;
- apakah anak kesulitan berkomunikasi;
- apakah hambatan muncul dalam berbagai situasi;
- bantuan seperti apa yang membuat anak lebih berhasil;
- apakah hambatan memengaruhi partisipasi dan kemandirian.
Jika diperlukan, sekolah dapat bekerja sama dengan tenaga profesional sesuai bidang kompetensinya.
Peran guru bukan menggantikan dokter, psikolog, terapis, atau tenaga profesional lainnya.
Peran guru adalah melakukan asesmen pendidikan dan menentukan dukungan pembelajaran berdasarkan kebutuhan murid.
Mengapa Asesmen Penting?
Asesmen merupakan langkah penting sebelum menyusun program pendidikan bagi PDBK.
Asesmen pendidikan tidak hanya mencari apa yang tidak dapat dilakukan anak.
Guru perlu menemukan:
- kemampuan yang telah dimiliki;
- kebutuhan yang belum terpenuhi;
- minat;
- cara berkomunikasi;
- gaya memperoleh informasi;
- kemampuan akademik;
- keterampilan motorik;
- keterampilan sosial;
- perilaku adaptif;
- tingkat kemandirian;
- bentuk bantuan yang efektif.
Kemendikdasmen juga menyediakan pendekatan Profil Belajar Siswa untuk membantu mengidentifikasi kebutuhan dan kesulitan peserta didik. Informasi tersebut dapat menjadi dasar penyusunan pembelajaran yang lebih akomodatif.
Dengan demikian, asesmen bukan sekadar menentukan “anak ini termasuk kategori apa”, tetapi menjawab:
“Apa yang perlu dilakukan sekolah setelah mengetahui kebutuhannya?”
Dari Asesmen Menuju Profil Belajar
Hasil asesmen dapat dituangkan dalam profil belajar murid.
Contohnya:
Kemampuan: Murid mampu mencocokkan angka 1–10.
Hambatan: Murid belum memahami konsep jumlah secara konsisten.
Kekuatan: Murid tertarik pada benda berwarna dan aktivitas manipulatif.
Kebutuhan: Pembelajaran menggunakan benda nyata.
Strategi: Murid memasangkan angka dengan jumlah benda sebelum menggunakan simbol dan soal tertulis.
Profil seperti ini jauh lebih bermanfaat bagi guru dibandingkan hanya menulis:
“Murid tunagrahita.”
Label tidak memberi tahu guru apa yang harus dilakukan.
Profil belajar memberikan arah pembelajaran.
Kebutuhan Belajar Anak Berkebutuhan Khusus
Setiap anak berbeda, tetapi beberapa bentuk dukungan berikut sering dibutuhkan.
1. Penyesuaian tujuan belajar
Sebagian murid dapat mengikuti tujuan yang sama dengan teman sekelasnya.
Murid lain mungkin membutuhkan tujuan yang disederhanakan atau tujuan individual.
2. Penyesuaian cara mengajar
Guru dapat menggunakan:
- demonstrasi;
- benda konkret;
- gambar;
- audio;
- video;
- simulasi;
- permainan;
- praktik langsung;
- pengalaman nyata.
3. Penyesuaian komunikasi
Instruksi dapat dibuat lebih pendek, menggunakan gambar, bahasa isyarat, gestur, atau komunikasi alternatif sesuai kebutuhan anak.
4. Penyesuaian waktu
Sebagian anak membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami instruksi, menulis, berkomunikasi, berpindah tempat, atau menyelesaikan tugas.
5. Penyesuaian lingkungan
Lingkungan belajar dapat disesuaikan melalui:
- penataan tempat duduk;
- pengurangan distraksi;
- akses kursi roda;
- pencahayaan;
- pengaturan suara;
- penanda visual;
- ruang yang aman.
6. Penyesuaian media
Media dapat berupa:
- Braille;
- teks besar;
- benda konkret;
- kartu gambar;
- audio;
- jadwal visual;
- alat tulis adaptif;
- pembaca layar;
- perangkat komunikasi.
7. Penyesuaian asesmen
Anak tidak selalu harus menunjukkan kemampuan melalui cara yang sama.
Murid dapat menunjukkan pemahamannya melalui:
- tulisan;
- pilihan gambar;
- demonstrasi;
- praktik;
- jawaban lisan;
- bahasa isyarat;
- perangkat komunikasi.
Apa Itu Akomodasi yang Layak?
Akomodasi yang layak adalah modifikasi atau penyesuaian yang diperlukan agar peserta didik penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam pendidikan.
PP Nomor 13 Tahun 2020 menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan perlu dimodifikasi dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.
Permendikbudristek Nomor 48 Tahun 2023 kemudian mengatur penyediaan akomodasi melalui dukungan pendanaan, sarana-prasarana, pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum, serta Unit Layanan Disabilitas.
Akomodasi bukan berarti memberikan keuntungan yang tidak adil.
Akomodasi justru menghilangkan hambatan sehingga anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi.
Apa Hubungannya dengan Pembelajaran Kompensatoris?
Sebagian PDBK membutuhkan keterampilan khusus untuk mengurangi dampak hambatan yang dialaminya.
Layanan tersebut dapat diberikan melalui pembelajaran kompensatoris.
Contohnya:
Hambatan penglihatan:
orientasi dan mobilitas, Braille, pembaca layar.
Hambatan pendengaran:
pengembangan komunikasi, persepsi bunyi, bahasa isyarat sesuai kebutuhan.
Hambatan intelektual:
pengembangan diri, perlindungan diri, keterampilan kehidupan sehari-hari.
Hambatan fisik:
pengembangan gerak dan penggunaan alat bantu.
Autisme:
komunikasi fungsional, perilaku adaptif, kemandirian, serta dukungan sensorik dan motorik.
Pembelajaran kompensatoris bukan pengganti akademik. Keduanya dapat berjalan bersama.
Apakah PDBK Harus Bersekolah di SLB?
Tidak semua PDBK harus bersekolah di Sekolah Luar Biasa.
Peserta didik penyandang disabilitas mempunyai hak memperoleh layanan pendidikan secara inklusif maupun melalui pendidikan khusus sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. PP Nomor 13 Tahun 2020 menegaskan hak atas layanan pendidikan bermutu pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan secara inklusif maupun khusus.
Seorang anak dapat belajar di:
- SLB;
- sekolah umum yang menyelenggarakan pendidikan inklusif;
- satuan pendidikan lain yang mampu menyediakan layanan sesuai kebutuhannya.
Pertimbangan sebaiknya mencakup:
- kebutuhan anak;
- hasil asesmen;
- cara komunikasi;
- ketersediaan layanan;
- aksesibilitas;
- kompetensi guru;
- lingkungan sosial;
- kebutuhan program khusus;
- keamanan;
- pendapat anak dan keluarga;
- kepentingan terbaik anak.
Bukan label sekolah yang menjadi pertimbangan utama, melainkan kualitas layanan yang benar-benar diterima anak.
Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusif
Pendidikan inklusif bukan hanya memasukkan PDBK ke ruang kelas reguler.
Sekolah harus memastikan anak dapat:
- memahami pembelajaran;
- mengakses materi;
- berkomunikasi;
- mengikuti kegiatan;
- memiliki hubungan sosial;
- mendapatkan akomodasi;
- merasa aman;
- memperoleh kesempatan berkembang.
Panduan Unit Layanan Disabilitas Kemendikdasmen menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak berhenti pada penerimaan PDBK, tetapi harus membangun lingkungan yang inklusif bagi seluruh warga sekolah.
Penjelasan lebih lengkap dapat dibaca pada artikel Apa Itu Pendidikan Inklusif?.
Anak Berkebutuhan Khusus di SLB
Di SLB, peserta didik dapat memperoleh pembelajaran yang lebih khusus melalui:
- pembelajaran akademik adaptif;
- pembelajaran fungsional;
- program kebutuhan khusus;
- pengembangan kemandirian;
- keterampilan vokasional;
- komunikasi;
- pengembangan sosial;
- perencanaan transisi.
Namun, berada di SLB tidak otomatis membuat suatu program sesuai dengan anak.
Prinsip yang sama tetap berlaku:
asesmen → identifikasi kebutuhan → tujuan → strategi → pelaksanaan → evaluasi.
Program Pembelajaran Individual untuk PDBK
Sebagian peserta didik membutuhkan Program Pembelajaran Individual (PPI).
PPI dapat memuat:
- profil kemampuan anak;
- kebutuhan prioritas;
- tujuan jangka panjang;
- tujuan jangka pendek;
- strategi;
- media;
- bentuk bantuan;
- layanan yang diberikan;
- cara penilaian;
- evaluasi perkembangan.
Panduan PPI yang diterbitkan pemerintah menjelaskan bahwa program individual dapat digunakan dalam pendidikan khusus baik di SLB maupun sekolah inklusif untuk membantu guru merancang pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.
PPI bukan berarti anak harus selalu belajar sendirian.
Anak tetap dapat belajar bersama teman-temannya, tetapi memiliki target atau dukungan individual.
Peran Guru dalam Mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus
Guru memiliki peran penting untuk:
- mengamati kemampuan dan kebutuhan anak;
- melakukan asesmen pendidikan;
- menyusun profil belajar;
- menentukan tujuan prioritas;
- menyesuaikan pembelajaran;
- menyiapkan media aksesibel;
- memberikan bantuan secara bertahap;
- mencatat perkembangan;
- berkolaborasi dengan keluarga;
- bekerja sama dengan tenaga profesional bila diperlukan.
Guru juga perlu menjaga ekspektasi terhadap anak.
Ekspektasi yang terlalu rendah dapat membuat potensi anak tidak berkembang.
Sebaliknya, tuntutan yang tidak sesuai kemampuan juga dapat membuat anak terus-menerus mengalami kegagalan.
Peran Orang Tua
Orang tua merupakan mitra penting karena mengenal kehidupan anak di luar sekolah.
Informasi dari keluarga dapat membantu guru memahami:
- kebiasaan;
- cara berkomunikasi;
- makanan;
- kondisi kesehatan;
- sensitivitas sensorik;
- minat;
- perilaku;
- kemandirian;
- strategi yang efektif di rumah.
Kolaborasi sekolah dan keluarga memungkinkan keterampilan yang dipelajari di sekolah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Gunakan Bahasa yang Menghargai Anak
Bahasa mempunyai pengaruh terhadap cara masyarakat melihat disabilitas.
Hindari penggunaan istilah yang merendahkan, mengejek, atau menggambarkan anak semata-mata melalui kekurangannya.
Daripada mengatakan:
“Anak ini tidak bisa apa-apa.”
Lebih bermanfaat mengatakan:
“Saat ini anak membutuhkan bantuan untuk melakukan kegiatan tersebut.”
Daripada:
“Dia nakal karena autis.”
Lebih tepat mencari tahu:
“Apa yang memicu perilaku tersebut dan dukungan apa yang dibutuhkan?”
Bahasa yang tepat bukan sekadar masalah kesopanan. Bahasa memengaruhi ekspektasi, keputusan pendidikan, dan perlakuan terhadap anak.
Jangan Membandingkan Perkembangan Anak Secara Sembarangan
Perkembangan PDBK sering tidak berjalan dengan pola yang sama.
Seorang anak mungkin mengalami kemajuan besar hanya dengan mampu meminta minum secara mandiri.
Bagi anak lainnya, kemajuan dapat berupa membaca sebuah paragraf, menggunakan transportasi, atau memperoleh keterampilan kerja.
Karena itu, evaluasi sebaiknya lebih banyak membandingkan perkembangan anak dengan kemampuan anak sebelumnya, bukan terus-menerus membandingkannya dengan anak lain.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
Apa yang sebelumnya belum mampu dilakukan anak, tetapi sekarang sudah mulai mampu dilakukan?
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Beberapa kesalahan yang masih sering terjadi antara lain:
- menganggap semua ABK memiliki kemampuan rendah;
- menentukan program hanya berdasarkan diagnosis;
- memberikan tugas yang sama tanpa penyesuaian;
- terlalu banyak membantu anak;
- menurunkan target tanpa asesmen;
- menganggap perilaku sebagai kenakalan semata;
- memisahkan anak tanpa alasan pendidikan yang jelas;
- mengabaikan komunikasi anak;
- hanya mengejar kemampuan akademik;
- tidak mengajarkan kemandirian;
- menyamakan kebutuhan semua anak dengan jenis hambatan yang sama;
- memberi diagnosis tanpa kewenangan profesional.
Dari “Apa Kekurangannya?” Menjadi “Dukungan Apa yang Dibutuhkan?”
Cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus menentukan kualitas layanan pendidikan.
Jika guru hanya mencari kekurangan, program akan dipenuhi daftar ketidakmampuan.
Sebaliknya, apabila guru melihat hubungan antara kemampuan anak dan hambatan lingkungannya, pertanyaan akan berubah.
Bukan:
“Mengapa anak ini tidak bisa?”
Tetapi:
“Apa yang menghambat anak dan apa yang dapat kita ubah?”
Mungkin materi perlu dibuat lebih konkret.
Mungkin instruksi terlalu panjang.
Mungkin anak membutuhkan bahasa isyarat.
Mungkin ruang kelas terlalu bising.
Mungkin anak membutuhkan kursi yang lebih sesuai.
Mungkin jawaban seharusnya dapat diberikan dengan gambar, bukan tulisan.
Perubahan sederhana dapat menghasilkan perbedaan besar dalam partisipasi anak.
Kesimpulan
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan dukungan, penyesuaian, atau layanan tertentu agar dapat belajar, berkembang, berkomunikasi, mandiri, dan berpartisipasi secara optimal.
Kebutuhan khusus dapat berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, intelektual, fisik, komunikasi, autisme, perilaku, perhatian, kesulitan belajar, maupun kombinasi beberapa kondisi.
Namun, kategori tidak boleh menjadi pusat pendidikan.
Yang jauh lebih penting adalah memahami kemampuan, hambatan, kebutuhan, potensi, minat, serta bentuk dukungan yang efektif bagi setiap anak.
Karena itu, layanan pendidikan bagi PDBK perlu dimulai dengan asesmen, dilanjutkan dengan penyesuaian pembelajaran, akomodasi yang layak, program kebutuhan khusus apabila diperlukan, dan evaluasi perkembangan secara berkelanjutan.
Baik di SLB maupun sekolah inklusif, tujuan akhirnya sama: memastikan anak bukan hanya hadir di sekolah, tetapi benar-benar belajar, berpartisipasi, berkembang, dan dihargai sebagai individu.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud anak berkebutuhan khusus?
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang membutuhkan dukungan atau penyesuaian tertentu dalam perkembangan, pembelajaran, komunikasi, mobilitas, interaksi sosial, atau aktivitas kehidupan sehari-hari.
Apa perbedaan ABK dan PDBK?
ABK berarti anak berkebutuhan khusus. PDBK berarti peserta didik berkebutuhan khusus dan lebih sering digunakan ketika membicarakan anak dalam konteks pendidikan.
Apakah anak berkebutuhan khusus selalu memiliki disabilitas?
Istilah kebutuhan khusus memiliki penggunaan yang lebih luas dalam praktik pendidikan. Dalam konteks hak penyandang disabilitas, regulasi menggunakan istilah peserta didik penyandang disabilitas secara lebih spesifik.
Apakah semua ABK memiliki kemampuan akademik rendah?
Tidak. Kemampuan akademik PDBK sangat beragam. Hambatan fisik, penglihatan, atau pendengaran, misalnya, tidak otomatis berarti kemampuan intelektual rendah.
Apakah autisme termasuk kebutuhan khusus?
Ya. Anak dalam spektrum autisme dapat membutuhkan dukungan pada komunikasi, interaksi, perilaku adaptif, sensorik, fleksibilitas, atau kemandirian sesuai profil individualnya.
Bagaimana menentukan kebutuhan belajar ABK?
Kebutuhan belajar sebaiknya ditentukan melalui observasi dan asesmen pendidikan yang melihat kemampuan, hambatan, komunikasi, akademik, motorik, sosial, kemandirian, dan kebutuhan dukungan anak.
Apakah semua ABK harus masuk SLB?
Tidak. PDBK dapat memperoleh pendidikan melalui SLB maupun pendidikan inklusif. Pemilihan layanan perlu mempertimbangkan kebutuhan anak dan kemampuan satuan pendidikan menyediakan dukungan yang diperlukan.
Apa yang dimaksud pembelajaran kompensatoris?
Pembelajaran kompensatoris adalah pembelajaran yang membantu PDBK mengembangkan keterampilan atau menggunakan strategi alternatif agar dapat mengurangi dampak hambatan dan lebih mampu berpartisipasi dalam pembelajaran serta kehidupan sehari-hari.